Notification

×

Iklan tengah atas

Benner Up / infotorial

SMAN 6 Palopo Hadirkan Dua Inovasi, GEMAS Digital dan Kotak LABU untuk Transformasi Budaya Sekolah

10 September 2026 | 16.28 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-10T08:28:09Z

A1news.id PALOPO — Upaya membangun budaya sekolah yang positif, aman, inklusif, dan peduli lingkungan terus dilakukan di UPT SMA Negeri 6 Palopo. Salah satunya melalui rancangan Proyek Transformasi Kepemimpinan Sekolah dalam Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) 2026 yang mengusung dua inovasi, yakni GEMAS DIGITAL dan KOTAK LABU.


Dua inovasi tersebut dirancang oleh Haryanti, S.Si., M.Pd. sebagai bagian dari proyek transformasi kepemimpinan sekolah. Keduanya mengedepankan pemanfaatan data harian, partisipasi warga sekolah, serta perpaduan antara kanal fisik dan digital.


Rancangan tersebut lahir berdasarkan data Rapor Pendidikan yang menunjukkan masih perlunya penguatan pada dimensi karakter murid. Dalam materi proyek disebutkan, skor dimensi karakter murid berada pada angka 60,22, sementara 93,33 persen peserta didik merasa aman dari perundungan di sekolah.


Haryanti menjelaskan, kedua proyek tersebut tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah, tetapi juga diarahkan untuk membangun kebiasaan positif yang dapat menjadi bagian dari budaya sekolah.


“Dua rancangan proyek ini lahir dari data Rapor Pendidikan dan diarahkan pada satu tujuan, yaitu menguatkan budaya sekolah melalui pemantauan data harian,” demikian gagasan utama yang diusung dalam proyek tersebut.


GEMAS DIGITAL, Gerakan Sekolah Minim Sampah


Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah GEMAS DIGITAL, singkatan dari Gerakan Ekologis Minim Sampah melalui Tumbler, Budi Daya Maggot, dan Aplikasi Jejak Hijau.


Program ini dilatarbelakangi masih banyaknya sisa makanan dari bekal dan kantin yang terbuang serta kebiasaan penggunaan kemasan plastik dan styrofoam sekali pakai. Selain itu, sampah organik yang menumpuk dapat menimbulkan bau, sementara kebiasaan memilah sampah belum berjalan secara konsisten.


Melalui GEMAS DIGITAL, kebiasaan peduli lingkungan tidak hanya dilakukan melalui imbauan, tetapi dipantau menggunakan sistem digital.


Program tersebut memadukan tumbler, wadah pemilahan sisa makanan, budi daya maggot BSF, serta aplikasi Jejak Hijau. Aplikasi ini dirancang untuk mencatat partisipasi siswa setiap hari, memberikan poin, menampilkan peringkat kelas, hingga merekap hasil panen maggot dan kasgot.


Targetnya, wadah pemilah dan Rumah Maggot tersedia di Sekolah pada bulan pertama. Selanjutnya, aplikasi Jejak Hijau mulai diuji coba pada bulan kedua. Mulai bulan keempat, ditargetkan partisipasi siswa membawa tumbler mencapai sedikitnya 80 persen dan penyetoran sisa makanan bebas plastik mencapai 75 persen.


Program GEMAS DIGITAL dirancang berlangsung selama enam bulan melalui tiga tahap, yakni persiapan, implementasi, serta refleksi dan pemantapan. Hasil program nantinya diharapkan dapat menjadi bagian dari SOP sekolah dan diintegrasikan dengan pembelajaran, khususnya Biologi, kewirausahaan, serta Koding dan Kecerdasan Artifisial.


KOTAK LABU, Perkuat Deteksi Dini Perundungan


Inovasi kedua adalah KOTAK LABU, atau Kotak Lapor Bullying, yang dirancang untuk memperkuat karakter siswa melalui sistem deteksi dini dan pelaporan perundungan berbasis data harian.


Program ini melihat adanya tantangan dalam mekanisme pelaporan secara langsung. Sebagian siswa dapat merasa enggan melapor karena khawatir identitasnya diketahui atau mendapatkan stigma sosial.


Karena itu, KOTAK LABU menawarkan sistem pelaporan melalui dua kanal, yakni kotak fisik dan aplikasi digital. Kotak fisik ditempatkan di setiap kelas dan titik strategis, sementara aplikasi digital dilengkapi formulir dan dasbor rekap harian dengan pilihan pelaporan anonim maupun teridentifikasi.


Laporan yang masuk kemudian ditindaklanjuti secara berjenjang, mulai dari wali kelas, guru Bimbingan dan Konseling (BK), hingga kepala sekolah untuk kasus yang membutuhkan penanganan lebih serius.


Program ini menargetkan sedikitnya 90 persen laporan dapat ditindaklanjuti dalam waktu 2 x 24 jam sejak bulan ketiga pelaksanaan. Selain itu, program diarahkan untuk meningkatkan skor karakter murid sekaligus mempertahankan rasa aman siswa di atas 93,33 persen.


Berbasis Nilai Sipakatau dan Sipakainge


Menariknya, kedua inovasi tersebut tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga berlandaskan nilai kearifan lokal Sipakatau dan Sipakainge.


Sipakatau dimaknai sebagai sikap saling memanusiakan, sedangkan Sipakainge merupakan semangat untuk saling mengingatkan. Nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun lingkungan sekolah yang saling menghargai, peduli, dan bertanggung jawab.


KOTAK LABU dan GEMAS DIGITAL juga memiliki benang merah yang sama, yakni kepemimpinan transformatif berbasis pemantauan data harian. Kanal fisik dan digital digunakan secara berdampingan agar seluruh siswa memiliki ruang untuk berpartisipasi. (*)