LUWU TIMUR – Upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan terus didorong melalui pendekatan pemberdayaan dan inovasi. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Muhammadiyah Palopo melaksanakan program pengabdian masyarakat di Desa Kalpataru, Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur, dengan mengusung konsep ekonomi sirkular sebagai solusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung selama Mei 2026 tersebut mencakup Seminar Ekonomi Sirkular pada 13 Mei 2026 serta Pelatihan Pembuatan Alat Pembakaran Sampah Minim Asap pada 24 Mei 2026. Program ini diikuti puluhan warga dan generasi muda yang antusias mempelajari metode pengelolaan sampah yang dinilai lebih bernilai guna dan ramah lingkungan.
Pelaksanaan kegiatan tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menitikberatkan pada prinsip pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang, serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-T memperkenalkan pendekatan ekonomi sirkular yang menempatkan sampah bukan sebagai akhir dari siklus pemanfaatan, melainkan sumber daya yang masih dapat diolah kembali menjadi produk bernilai.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan kepada masyarakat adalah pemanfaatan limbah popok bayi menjadi media tanam. Limbah popok yang selama ini dikenal sulit terurai diolah melalui tahapan pembersihan dan fermentasi, kemudian bagian hidrogel dimanfaatkan karena memiliki kemampuan menyimpan air dan unsur hara.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus mendukung pengembangan tanaman pekarangan masyarakat.
Selain itu, tim KKN-T juga memperkenalkan alat pembakaran sampah minim asap untuk menangani jenis sampah yang belum dapat didaur ulang. Alat tersebut dirancang menggunakan sistem sirkulasi udara sehingga proses pembakaran menghasilkan emisi asap dan bau yang lebih rendah dibanding metode pembakaran terbuka.
Dosen Pembimbing Lapangan, Adi Firmanzah, mengatakan bahwa tujuan utama program bukan hanya memberikan solusi teknis, tetapi membangun pola pikir masyarakat dalam melihat persoalan lingkungan.
“Pemberdayaan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat mampu memandang masalah sebagai peluang. Mengelola sampah bukan hanya kewajiban, tetapi juga bagian dari membangun kemandirian ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kalpataru, Sampe Tunggala, menyampaikan apresiasi atas program yang dinilai memberikan alternatif solusi terhadap persoalan limbah di desa.
Menurutnya, inovasi pengolahan limbah popok membuka peluang baru yang tidak hanya berdampak pada pengurangan pencemaran lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi aktivitas ekonomi produktif bagi masyarakat.
Koordinator Tim KKN-T, Muh. Ramadhan Septa Putra, menambahkan bahwa program tersebut diharapkan meninggalkan dampak jangka panjang berupa perubahan pola pikir dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Program ini menjadi salah satu contoh penerapan kolaborasi antara pendidikan, inovasi teknologi sederhana, dan pemberdayaan masyarakat dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan menuju desa yang lebih bersih, mandiri, dan sejahtera.







