A1News.id | PALOPO | Pondok Pesantren Datok Sulaiman menggelar kegiatan Ijtima’ Santri yang diikuti ratusan santri dan pembina dari sejumlah madrasah serta pondok pesantren di wilayah Kabupaten Luwu dan Kota Palopo, 22/5/2026.
Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dengan mengusung semangat penguatan dakwah, pembinaan akhlak, dan penguatan peran santri di tengah masyarakat.
Pesantren yang hadir dalam kegiatan tersebut di antaranya Pesantren Al Ikhwan Tombang dengan 28 santri dan 2 pembina, Pesantren Kalosi Salu Jambu sebanyak 8 santri dan 1 pembina, serta Pesantren Modern Datok Sulaiman yang mengikut sertakan 150 santri reguler, 30 santri tambahan, dan 12 pembina.
Selain itu, hadir pula Pesantren Al Hidayah Walenrang dengan 10 santri dan 2 pembina, serta Pesantren Babussalam Rampoang yang mengirimkan 10 santri bersama 2 pembina. Secara keseluruhan, kegiatan tersebut diikuti sekitar 236 santri dan 24 pembina atau ustadz.
Ijtima’ santri tersebut dipimpin langsung oleh K.H. Muhammad Rasyad Syarifuddin, Lc., M.A. Turut hadir sejumlah ulama dan pembina, di antaranya Ustadz Yasir dan Ustadz Lukman Alwi.
Dalam arahannya, para peserta diajak menanamkan nilai perjuangan dakwah sebagai bentuk melanjutkan tugas para nabi dalam menyebarkan ajaran Islam. Para pembina juga menekankan pentingnya keseimbangan antara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, dan berdakwah di tengah masyarakat.
K.H. Muhammad Rasyad Syarifuddin, Lc., M.A menegaskan bahwa pada zaman Rasulullah SAW, seluruh kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, memiliki tanggung jawab dakwah meski tidak semuanya merupakan ulama atau orang berilmu.
Ia menjelaskan bahwa para sahabat ahlussuffah yang tinggal di Masjid Nabawi senantiasa dibina oleh Rasulullah SAW melalui dua hal utama, yakni mempelajari ilmu agama dan mendakwahkan agama kepada masyarakat.
“Jika madrasah hanya mengajarkan ilmu tetapi meninggalkan dakwah, maka ilmu yang dimiliki tidak dapat diamalkan dengan baik. Akibatnya, adab dan akhlak bisa menjadi rusak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar sebagai bagian dari tanggung jawab umat Islam. Menurut hadits Rasulullah SAW keberkahan ilmu akan sulit dirasakan apabila ilmu yang diperoleh tidak diamalkan dan disampaikan kepada masyarakat.
Dalam penyampaian materi ijtima’, para santri didorong agar tidak hanya fokus menuntut ilmu di lingkungan pesantren, tetapi juga mampu mengamalkan serta mendakwahkan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat luas.
Madrasah dan pondok pesantren disebut sebagai tempat penguatan ilmu, sementara pengamalan ilmu dilakukan melalui penguatan iman.
Para pembina menjelaskan bahwa iman tumbuh melalui dakwah dan perjuangan di jalan Allah sehingga ilmu dan dakwah harus berjalan beriringan dalam kehidupan seorang santri.
Sebagai bentuk latihan dan penguatan mental dakwah, para santri diarahkan untuk melaksanakan dakwah di jalan Allah selama satu hari setiap pekan atau tiga hari dalam setiap bulan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menunaikan perintah Allah dalam menyampaikan ilmu kepada umat.
Program dakwah juga diperkuat melalui agenda khusus selama 40 hari pada masa liburan tahunan. Program itu diharapkan mampu membentuk pribadi santri yang mandiri, disiplin, serta memiliki semangat perjuangan dan pengabdian di tengah masyarakat.
Di lingkungan pesantren, pembinaan dakwah turut diperkuat melalui program “Jaulah 1” dan “Jaulah 2”. Kegiatan tersebut dilakukan dengan berkeliling di sekitar lingkungan masjid dan permukiman warga untuk bersilaturahmi, mengajak masyarakat memakmurkan masjid, serta menyampaikan pesan-pesan kebaikan.
Melalui kegiatan ijtima’ tersebut, para pembina berharap para santri tidak hanya memperoleh manfaat pribadi dari usaha dakwah, tetapi juga mampu menjadi penerus perjuangan Islam yang membawa ilmu, akhlak, serta manfaat bagi masyarakat luas.







